Apa Itu Tradisi Merariq dalam Perkawinan Adat Lombok?

Beberapa tahun lalu, saya menginap di sebuah desa di Lombok Tengah. Malam-malam, terdengar suara motor beriringan, seperti konvoi kecil. Warga yang tadinya santai di berugak langsung berdiri. Ada yang senyum-senyum, ada yang bersorak pelan. Seorang bapak berkata pada saya, “Nah, itu anak muda baru aja ‘ngangkut’.”

Saya bingung. Diangkut siapa?

“Merariq,” jawabnya singkat. “Nanti kamu akan mengerti.”

Dan benar saja, keesokan paginya, saya duduk bersama warga yang sedang memasak besar di halaman. Ada yang membawa nasi, ayam, kelapa, dan bumbu dapur. Suasana ramai, tapi rapi. Saya baru sadar: ini bukan kekacauan. Ini bagian dari sebuah tradisi besar.

Namanya Merariq—tradisi pernikahan khas masyarakat Sasak yang lebih dalam dari sekadar “kawin lari”.

Apa Itu Merariq?

Merariq adalah salah satu tahapan penting dalam perkawinan adat masyarakat Sasak di Lombok. Secara kasat mata, Merariq tampak seperti penculikan atau kawin lari—karena memang prosesnya melibatkan “pengambilan” perempuan dari rumah orang tuanya oleh pihak laki-laki.

Tapi jangan salah. Merariq bukan tindakan sembarangan. Ia diatur adat, dijalankan dengan etika, dan mengandung filosofi dalam. Semua pihak tahu apa yang sedang terjadi, dan ini bukan soal paksaan atau lari dari tanggung jawab. Justru sebaliknya: Merariq adalah bagian dari kehormatan.

Dalam pelaksanaan Merariq, pihak laki-laki biasanya mengatur waktu tertentu untuk “mengambil” calon istrinya—tentu dengan kesepakatan keduanya. Setelah itu, sang perempuan dibawa ke rumah kerabat atau keluarga besar si pria, lalu dimulailah rangkaian adat yang melibatkan kedua keluarga.

Makna di Balik “Mengangkut” dalam Budaya Sasak

Kata “mengangkut” dalam tradisi Merariq bukanlah istilah kasar. Justru, itu bagian dari proses awal menyatukan dua keluarga. Mengangkut berarti mengambil tanggung jawab. Saat seorang pria membawa perempuan untuk Merariq, ia juga membawa semua beban sosial, ekonomi, dan moral sebagai suami.

Tindakan ini menjadi penanda bahwa laki-laki siap secara lahir dan batin untuk menikah. Ia tidak hanya membawa cinta, tapi juga keberanian dan kesiapan.

Saya pernah bertanya pada seorang tokoh adat, kenapa tidak langsung datang melamar secara resmi saja?

Beliau menjawab, “Kalau datang langsung tanpa Merariq, itu seperti menawar dagangan. Kalau Merariq, justru kami hormat karena dia berani mengambil tanggung jawab dulu, baru bicara adat.”

Proses Setelah Merariq: Mediasi dan Perdamaian

Setelah Merariq terjadi, pihak keluarga perempuan akan “kehilangan” anaknya. Tapi mereka tidak panik, karena semua tahu ini bagian dari adat. Maka, yang dilakukan adalah menunggu pihak laki-laki datang secara resmi dalam prosesi yang disebut Selabar atau Bale Mangale—yakni permintaan maaf sekaligus lamaran resmi.

Di sinilah dimulai proses negosiasi mahar, tanggal pernikahan, dan tanggung jawab adat. Yang menarik, proses ini dilakukan secara musyawarah, melibatkan tetua adat, keluarga besar, dan tokoh masyarakat.

Kalau semua berjalan lancar, maka akan ada acara Sorong Serah—serah terima secara adat, mirip akad nikah tapi penuh simbolik. Biasanya dibarengi dengan pertunjukan budaya seperti gendang beleq dan iring-iringan nyongkolan.

Di sinilah momen sakral itu terasa: bahwa sebuah hubungan bukan hanya menyatukan dua individu, tapi dua keluarga, dua komunitas.

Bukan Lari dari Restu, Tapi Jalur Adat

Banyak orang luar mengira Merariq adalah bentuk pemberontakan, lari dari restu orang tua. Padahal dalam banyak kasus, justru proses Merariq dilakukan atas dasar cinta yang didukung kedua belah pihak.

Namun, ada juga situasi di mana Merariq dilakukan sebagai jalan tengah saat restu tidak kunjung datang. Dalam konteks ini, adat menjadi mediator. Tradisi justru menjadi jembatan, bukan pemicu konflik.

Saya pernah berbicara dengan pasangan muda yang menikah lewat proses Merariq. Keduanya terlihat bahagia. Sang istri berkata, “Kami tidak lari dari orang tua, kami hanya ingin didengar. Dan lewat Merariq, orang tua akhirnya mengerti bahwa kami sungguh-sungguh.”

Tradisi yang Penuh Nuansa: Dari Romantis hingga Taktis

Merariq tidak hanya tradisi adat, tapi juga penuh dinamika sosial. Setiap desa bisa punya variasi tata cara, waktu, dan istilah. Di beberapa tempat, Merariq dilakukan malam hari dengan iringan teman-teman dekat. Di tempat lain, prosesnya lebih tertutup dan simbolik.

Namun benang merahnya tetap sama: Merariq adalah cara masyarakat Sasak menjalankan pernikahan dengan kehormatan, keberanian, dan kesadaran sosial. Ada rasa malu kalau Merariq dilakukan asal-asalan. Ada tanggung jawab besar yang mengikuti setelah itu.

Dan ini yang membuat saya merasa bahwa Lombok tour berbasis budaya sangat penting untuk membuka mata wisatawan. Karena ketika kamu benar-benar memahami proses seperti Merariq, kamu tak hanya mengunjungi pulau, tapi ikut menyelami jantung kebudayaannya.

Simbol-Simbol Kuat dalam Merariq

Beberapa simbol yang muncul dalam tradisi ini juga menarik. Misalnya, dalam prosesi Sorong Serah, biasanya ada benda-benda yang dibawa oleh pihak laki-laki sebagai lambang tanggung jawab: keris (keberanian), uang adat (kesanggupan ekonomi), dan sehelai kain (perlindungan).

Pakaian adat yang dikenakan pun tidak sembarangan. Calon pengantin pria memakai baju khas Sasak dengan sapuk di kepala, sementara pengantin wanita tampil anggun dengan balutan songket dan perhiasan tradisional.

Dalam iring-iringan nyongkolan setelah akad, pasangan diarak keliling kampung untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka kini sudah sah menjadi suami istri. Ini bukan pamer, tapi pernyataan terbuka yang disambut masyarakat dengan doa dan restu.

Merariq di Era Modern: Bertahan dan Bertransformasi

Zaman boleh berubah, tapi Merariq masih bertahan. Di kota-kota besar, mungkin tradisinya sedikit disederhanakan. Tapi di desa-desa, semangat dan tata caranya tetap terjaga. Bahkan, banyak pemuda Sasak yang tetap ingin menjalani Merariq sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.

Saya sempat ikut menyaksikan perayaan pernikahan dengan rangkaian adat lengkap. Mulai dari Merariq, mediasi keluarga, Sorong Serah, hingga nyongkolan. Tidak terasa seperti ritual kuno. Justru, sangat hidup. Warga desa datang membantu, membawa lauk pauk, menata tempat duduk, ikut bersukacita.

Inilah bukti bahwa adat tidak harus ditinggalkan demi modernitas. Justru bisa saling melengkapi.